Membangun Semangat Indonesia ‘Incorporated’

27 02 2009

Permasalahan krusial yang terus menggelayuti kehidupan bangsa Indonesia adalah pengangguran dan kemiskinan serta merosotnya daya saing ekonomi. Terlepas dari kontroversi tentang keabsahan data BPS, angka pengangguran terbuka dan kemiskinan sebesar 10,55 juta dan 37,17 juta orang per Maret 2007 masih terlalu tinggi untuk kita bisa bangkit menjadi bangsa maju dan makmur. Apalagi bila mengacu pada garis kemiskinan versi Bank Dunia (US$2/orang/hari), jumlah penduduk miskin Indonesia mencapai 109 juta atau 49% dari jumlah total penduduk.

Orang yang menganggur dan miskin, tidak punya rumah, dan masa depan tidak jelas, sangat mudah marah dan gelap mata untuk melakukan beragam tindakan yang merugikan diri sendiri dan keluarganya serta orang lain. Seperti mencuri, merampok, demo anarkistis, dan berbagai kegiatan ilegal serta kriminal lainnya.

Padahal hanya melalui investasi dan usaha di sektor riillah pertumbuhan ekonomi berkualitas yang mampu menyediakan lapangan kerja dalam jumlah besar dan memberikan kesejahteraan kepada rakyat dapat kita hadirkan. Lebih dari itu, keluarga miskin akan melahirkan keturunan yang pada umumnya kurang gizi, rendah tingkat pendidikan dan keterampilannya. Sehingga, dalam jangka panjang bakal melahirkan generasi yang lemah, kurang cerdas, dan tidak produktif. Jika kondisi semacam ini tidak segera dibenahi, cita-cita kita untuk menjadi bangsa maju dan makmur dengan kekuatan ekonomi terbesar kelima di dunia pada 2030 hanya mimpi belaka.

Mengemas kebijakan pembangunan

Secara garis besar, kemiskinan dapat disebabkan faktor alam (kemiskinan alamiah), budaya (kemiskinan kultural), dan struktural (kemiskinan struktural). Dalam perspektif Islam, kemiskinan adalah masalah struktural dan kultural. Karena Allah menciptakan alam semesta dengan segenap isinya tak lain untuk menjamin keberlangsungan hidup dan rezeki bagi setiap makhluk-Nya (QS Hud: 6 dan QS Ar-Rum: 40). Apalagi hidup di Nusantara yang alamnya subur makmur, bak zamrud di khatulistiwa, rasanya kemiskinan karena kekurangan sumber daya alam adalah hal yang tidak masuk akal. Oleh karena itu, faktor dominan yang menyebabkan kemiskinan di tanah air adalah bersifat kultural dan struktural.

Kemiskinan kultural disebabkan budaya (etos kerja) seseorang atau masyarakat yang bertolak belakang dengan etos pembangunan dan kemajuan. Seperti malas, boros, enggan mengadopsi inovasi teknologi, rendahnya jiwa wirausaha, kurang disiplin, tidak jujur, egois, dan budaya instan. Sedangkan kemiskinan struktural adalah akibat kebijakan pemerintah dan perilaku korporasi yang membuat masyarakat miskin tidak atau sedikit sekali memiliki akses terhadap aset ekonomi produktif. Inilah akar masalah kemiskinan di Indonesia. Sayangnya, program pengentasan kemiskinan selama ini bersifat parsial, menggunakan pendekatan proyek, dan memberi ikan, bukan kail. Sementara itu problem kultural dan strukturalnya sama sekali belum tersentuh.

Oleh sebab itu, upaya memerangi pengangguran dan kemiskinan mesti dilakukan dengan membongkar problem struktural dan kultural yang selama ini menjerat kebanyakan rakyat kita hidup dalam kesengsaraan. Segenap kebijakan dan program juga harus dikemas dalam kerangka meningkatkan daya saing ekonomi nasional guna mewujudkan Indonesia yang maju, adil makmur, dan berdaulat pada 2030. Untuk itu, sedikitnya enam kebijakan terobosan berikut perlu segera kita implementasikan.

Pertama, mempercepat realisasi pertumbuhan ekonomi berkualitas yang memberikan manfaat luas bagi rakyat. Ini dapat ditempuh melalui penguatan dan pengembangan investasi sektor riil. Mengingat lebih dari 60% rakyat kita bekerja pada sektor pertanian, kelautan dan perikanan, dan kehutanan serta kebanyakan petani dan nelayan masih miskin; maka penguatan dan pengembangan investasi sektor riil mestinya difokuskan pada ketiga sektor ini.

Kedua, pembangunan infrastruktur dan pemenuhan kebutuhan energi nasional yang mampu meningkatkan kapasitas dan efisiensi perekonomian serta memberi manfaat luas bagi masyarakat. Pembangunan infrastruktur harus menunjang produktivitas dan efisiensi sektor riil. Sudah saatnya pembangunan infrastruktur di wilayah-wilayah padat penduduk atau industri seperti Jawa, Bali, dan pantai timur Sumatra diserahkan kepada swasta. Sementara itu, dana APBN diprioritaskan untuk membangun wilayah-wilayah tertinggal di luar Jawa dan Bali, pulau-pulau kecil serta daerah perbatasan.

Kebijakan energi nasional harus mengutamakan pemenuhan kebutuhan nasional untuk kehidupan rumah tangga, industri, transportasi, dan kegiatan pembangunan lainnya. Kalau ada sisa pasokan, itulah yang diekspor. Bahkan untuk gas alam, karena kalau diproses bisa menjadi puluhan produk hilir (pupuk, tekstil, polyethylen, dan produk petrokimia lainnya) yang bernilai tambah lebih tinggi, menyediakan banyak lapangan kerja, dan jauh lebih menguntungkan bangsa ketimbang diekspor mentah; maka sebaiknya ekspor gas alam menjadi pilihan terakhir.

Ketiga, untuk memanfaatkan akumulasi kelebihan likuiditas keuangan yang mencapai Rp300 triliun dalam bentuk SBI, setiap departemen yang terkait dengan kegiatan sektor riil meningkatkan kinerjanya dengan target dan program terukur. Selain itu, departemen tersebut hendaknya bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk bersama-sama swasta dan masyarakat meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha sektor riil, sehingga bankable. Pada saat yang sama, pihak perbankan pun harus proaktif, menjemput bola, terjun ke lapang untuk membiayai investasi dan bisnis sektor riil yang telah dibina pemerintah dan pengusaha.

Keempat, kebijakan makroekonomi harus dirancang untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi berkualitas secara berkelanjutan. Mari kita tinggalkan ukuran keberhasilan ekonomi yang hanya mendasarkan pada inflasi rendah, nilai tukar rupiah, IHSG, dan rendahnya defisit anggaran yang acap kali tidak nyambung dengan tujuan utama dari pembangunan ekonomi itu sendiri, yaitu meningkatnya kapasitas dan kesejahteraan rakyat. Selain itu, di era globalisasi, kebijakan makroekonomi harus pula menunjang terbentuknya ekonomi nasional yang berdaya saing, yang mampu memacu produktivitas dan efisiensi sektor ekonomi riil. Selanjutnya, sektor ekonomi ini dapat melahirkan perusahaan-perusahaan kelas dunia yang tidak hanya mampu menangkis gempuran berbagai produk impor di pasar domestik, tetapi juga mampu memenangi persaingan di pasar internasional.

Kelima, perbaikan iklim investasi yang meliputi konsistensi kebijakan, penghapusan ekonomi biaya tinggi dan budaya KKN, kepastian hukum, keamanan berusaha, ketenagakerjaan, perpajakan, dan reformasi birokrasi.

Keenam, agar jangan menjadi ‘bangsa pemadam kebakaran’, selalu ketinggalan kereta kemajuan, dan pasar berbagai produk teknologi dan industri bangsa lain; sejak sekarang kita harus mengalokasikan SDM dan anggaran secara signifikan untuk membangun pusat-pusat sains dan teknologi dalam rangka menguasai dan menerapkan teknologi di semua bidang kehidupan, utamanya industri dan perekonomian. Kita pun sebaiknya bekerja sama dengan bangsa-bangsa maju untuk penelitian dan pengembangan sains dan teknologi mutakhir atau masa depan, terutama aplikasi bioteknologi, ICT, dan nanoteknologi dalam bidang pertanian dan pangan, farmasi dan kedokteran, elektronik, informasi dan komunikasi, dan kelautan.

Sekiranya seluruh komponen bangsa bersatu dalam semangat Indonesia incorporated, yakni berhenti saling bertikai dan tidak mementingkan diri sendiri. Kemudian bersinergi dan menyumbangkan kemampuan terbaiknya untuk melaksanakan keenam agenda pembangunan di atas. Maka bukan hanya persoalan kekinian (pengangguran dan kemiskinan) yang dapat kita selesaikan, melainkan juga terwujudnya Indonesia yang maju, adil makmur, dan diridai Tuhan YME dalam waktu dekat.


Aksi

Information

One response

27 02 2009
Om Shani

Assalamu’alaikum………..

mampir ketempatku ya Pak…………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: